Dalam ajaran agama dan spiritual, kata bahagia sering sekali dibicarakan.
Banyak kutipan, nasihat, dan ajaran tentang bagaimana menjadi bahagia atau membuat makhluk lain bahagia.

Tapi pertanyaannya sederhana:
apa sebenarnya arti bahagia itu?

Bahagia, seperti kata-kata lain, punya makna yang beragam.

Ia sangat bergantung pada tingkat pemahaman, kecerdasan batin, dan sistem kepercayaan masing-masing individu.

Pada pemahaman umum, bahagia dimaknai sebagai kondisi:

-senang

-tenteram

-tidak menderita

-bebas dari hal yang menyusahkan

Dalam pengertian ini, bahagia adalah keadaan ego yang sedang tidak terluka.

Sebagai manusia, wajar jika kita mengejar kondisi seperti ini.

Kalau bisa bahagianya banyak, kenapa sedikit?
Semakin bahagia dianggap semakin baik.
Itu pemahaman yang umum dan sangat manusiawi.

Tapi dalam pandangan spiritual, bahagia tidak lagi diposisikan sebagai kondisi yang terus dikejar.

Karena pengejaran terhadap rasa dan kondisi dianggap tidak berkelanjutan.

Pada tingkat pemahaman yang lebih halus, ada kilatan batin. terutama bagi mereka yang sudah lelah mengejar bahagia versi dunia, bahwa ternyata ada bahagia yang jauh lebih dalam daripada yang selama ini dipahami.

Bahagia ini:

-tidak bisa diukur

-tidak bisa dikejar

-tidak bisa dijadikan objek

Ia hanya bisa dirasakan, dan anehnya… bisa dibagikan.

Semakin dicari, justru semakin tak ditemukan.
Namun saat “ditemukan”, ternyata ia tidak pernah ke mana-mana.

Bagi yang belum mengenalnya, ia akan terus dipertanyakan dan dianalisis.

Bagi yang telah merasakannya, biasanya hanya tersenyum, karena pemahaman itu hidup di dalam batin.

Bahagia ini bukan lagi rasa yang datang dan pergi.

Ia lebih mirip seperti:

-nafas

-matahari

-aliran air

-suara burung dan auman harimau

Selalu ada, entah kita menyadarinya atau tidak.

Tips yang paling sering diajarkan berbagai tradisi untuk “mendekati” bahagia ini sebenarnya sederhana:

-rileks total

-sadar/eling LAN awas

-lepaskan batin yang terus mencari

-bersabar

Para guru bijak merenungkan hal ini bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Jika kita mau mengikuti jejak mereka, meski sedikit saja, bahagia ini pasti bisa direalisasikan.

Hanya saja bentuk dan caranya sering di luar logika biasa.

Jadi: jangan menyerah,
tetaplah penasaran,
nikmati perjalanannya.

Jangan terlalu serius, tapi juga jangan meremehkan.

Usahakan, hargai diri sendiri, tanpa terjebak kesombongan.

Pada waktunya,
semuanya akan dipahami.

Terima kasih sudah membaca.
Semoga memberkahi.