Halaman 1 — Bukan Tertinggal, Tapi Menolak Saat Peluang Sudah Dekat, Tapi Hati Masih Mundur
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Banyak orang suka bilang dirinya ketinggalan. Mereka merasa nasibnya lambat, peluangnya sedikit, jalannya sempit, dan orang lain selalu lebih dulu sampai. Kalimat seperti ini terdengar sedih, bahkan kadang terlihat jujur. Tapi kalau dibongkar lebih dalam, tidak semua orang benar-benar ketinggalan. Sebagian justru sadar ada peluang, sadar ada jalan, sadar ada sistem yang bisa dipakai, lalu dengan tenang memilih untuk tidak masuk. Di sinilah judul artikel ini sengaja dibuat keras: Lo Nggak Ketinggalan — Lo Sengaja Nggak Mau Masuk Japripay. Ini bukan sekadar kalimat provokatif, melainkan cara paling jujur untuk membedakan antara orang yang tidak tahu jalan dengan orang yang tahu jalannya tetapi terus menolak melangkah. Dan jujur saja, dua hal itu beda jauh. Orang yang benar-benar tidak tahu masih layak dibantu. Tapi orang yang sudah tahu lalu terus memilih diam biasanya sedang kalah oleh dirinya sendiri.
Dalam banyak pengamatan lapangan terhadap perilaku masyarakat pada peluang ekonomi digital, pola ini muncul terus-menerus. Ada orang yang memang belum sempat mengenal sistem, belum paham alurnya, atau belum pernah disentuh penjelasan yang benar. Tapi ada juga tipe lain yang jauh lebih sering muncul: mereka sudah lihat, sudah dengar, sudah diberi tahu, bahkan sudah menyaksikan orang lain mulai bergerak, namun tetap saja menaruh dirinya di luar. Mereka bukan korban keterbatasan informasi, melainkan korban keputusan yang tidak pernah berani diambil. Dalam konteks Japripay, ini sangat relevan. Sistemnya ada, jalurnya ada, manfaatnya bisa dibaca, arah peluangnya terbuka. Tapi sebagian orang memilih memelihara jarak. Mereka lebih nyaman menjadi pengamat daripada peserta. Mereka lebih suka membahas dari luar daripada masuk ke dalam proses. Lalu setelah waktu berjalan, mereka menyebut itu sebagai “ketinggalan.” Padahal kalau mau jujur, itu bukan ketinggalan. Itu penolakan yang dikemas jadi alasan.
Al-Qur’an berkali-kali menunjukkan bahwa manusia sering menutup dirinya sendiri dari jalan yang sebenarnya telah dibukakan. Wa jahadū bihā wastaiqanathā anfusuhum ẓulman wa ‘uluwwā. Artinya: “Dan mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini (kebenarannya), karena kezhaliman dan kesombongan.” (QS. An-Naml [27]: 14). Ayat ini memang punya konteks besar, tetapi pesannya tajam untuk kehidupan sehari-hari: kadang seseorang menolak bukan karena tidak tahu, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang belum mau tunduk pada kebenaran atau peluang yang ada di depan mata. Dalam hadis, Rasulullah juga bersabda: Al-kayyisu man dāna nafsahū wa ‘amila limā ba‘dal-maut, wal-‘ājizu man atba‘a nafsahū hawāhā wa tamannā ‘alallāh. Artinya: “Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu banyak berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini keras, tapi pas. Orang lemah bukan cuma yang miskin tenaga, tapi juga yang terlalu sering membiarkan dirinya dikuasai rasa nyaman, rasa takut, atau ego yang membuatnya menolak jalan baik.
Dalam realitas sehari-hari, orang yang sengaja tidak mau masuk biasanya punya bahasa yang mirip. Mereka berkata, “nanti dulu,” “saya lihat-lihat dulu,” “saya belum yakin,” “takut begini, takut begitu,” atau “biar orang lain duluan.” Semua kalimat itu terdengar biasa. Tapi kalau diulang terus, ia berubah menjadi pagar yang dibangun sendiri. Akhirnya orang tersebut bukan tertinggal oleh dunia, melainkan tertahan oleh keputusan-keputusan kecil yang terus ia ambil untuk tidak benar-benar mulai. Inilah kenapa halaman pertama ini harus jadi tamparan pembuka. Karena banyak orang terlalu nyaman memainkan narasi bahwa dirinya terlambat, padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia terus menolak kesempatan yang sudah cukup jelas. Japripay tidak menuntut semua orang langsung hebat. Tapi ia menuntut satu hal dasar: kemauan untuk masuk. Dan selama seseorang belum punya keberanian itu, maka ia akan terus berdiri di luar, menyaksikan orang lain bertumbuh, sambil menyebut dirinya sebagai orang yang “belum sempat.”
Maka halaman ini harus dibaca dengan jujur dan tanpa defensif. Kalau hari ini kamu merasa belum ada perubahan besar dalam hidupmu, belum ada ritme cuan yang benar-benar bergerak, dan masih melihat peluang dari kejauhan, mungkin masalahnya bukan karena kamu tertinggal. Mungkin masalahnya jauh lebih dekat: kamu masih sengaja menjaga jarak dari pintu yang seharusnya sudah kamu masuki. Dan ini penting untuk diakui, karena pengakuan yang jujur adalah awal dari perubahan yang sungguh-sungguh. Japripay bisa jadi jalan, bisa jadi alat, bisa jadi sistem distribusi manfaat dan penghasilan. Tapi semua itu baru akan berarti setelah satu keputusan sederhana diambil: berhenti pura-pura merasa tertinggal, lalu akui bahwa selama ini kamu memang belum mau benar-benar masuk. Dari titik kejujuran itulah langkah pertama bisa lahir.
Halaman berikut (2/10): “Kenapa Banyak Orang Lebih Suka Jadi Penonton daripada Peserta dalam Sistem Uang.”
Kita akan bongkar kenapa sebagian orang lebih nyaman mengamati peluang dari jauh, padahal hasil hanya datang kepada mereka yang mau masuk ke dalam permainan.